Salah satu hewan yang membuat saya terkagum-kagum adalah semut. Dari sejak saya kecil sampai sekarang semut tidak pernah berubah. Mereka yang kecil dan lemah mampu memindahkan makanan yang ribuan kali lebih besar dari tubuhnya. Tanpa pemimpin, tanpa aturan dan undang-undang, tanpa perjanjian yang bermaterai mereka menjadi rekan sekerja untuk melakukan pekerjaan demi memenuhi kebutuhan mereka. Akibat kesatuan dan kerjasama ini mereka dapat melakukan hal-hal besar yang mustahil.
Kita sebagai orang Kristen pernahkah memperhatikan dan belajar dari
semut tersebut? Atau malah lebih sering kerja sendiri-sendiri dan menganggap
yang lain lebih baik dan layak dalam bekerja melayani Tuhan dari pada orang
lain?
Tema yang akan dibahas pada artikel ini adalah “kawan sekerja Allah.”
Teks 1-2 Korintus merupakan surat
yang dituliskan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Korintus.
Korintus adalah jemaat yang kaya dan memiliki banyak karunia, namun
memiliki berbagai-bagi permasalahan di jemaatnya. Pada surat pertama ini, di
pasal ketiga Paulus sedang membahas masalah mengenai perselisihan antara jemaat
yang membandingkan-bandingkan dan membangga-banggakan pemimpinnya. Hal ini
membuat mereka terpecah belah dan merasa lebih hebat atau senior dari yang
lain. Akhirnya Paulus menuliskan pesan kepada mereka.
Adapun hal-hal penting yang
perlu kita perhatikan dari teks ini akan dibagi menjadi dua poin:
1.
Allah yang Memberikan
Pertumbuhan (ay. 5-7)
Pada waktu surat ini diberikan jemaat terbagi-bagi menjadi beberapa kelompok. Ada kaum pengikut Apolos dan ada kaum pengikut Paulus. Mengapa hal ini terjadi? Karena beberapa dari mereka menerima injil keselamatan dari orang-orang yang berbeda, ada yang menerima Injil dari Apolos dan ada juga yang dari Paulus. Ini membuat mereka merasa bahwa mereka berbeda dan ada yang merasa lebih senior dan hebat. Ini membuat mereka tidak dapat bersatu dan bekerja sama. Firman Tuhan mengatakan Apolos dan Paulus sama-sama pelayan Tuhan sehingga tidak ada perbedaan di antara mereka. Paulus menggambarkan Injil seperti lahan pertanian, Paulus yang menanam dan Apolos yang menyiram. Artinya kedua pekerjaan hamba-hamba Tuhan ini sama-sama mendukung. Tidak ada yang lebih hebat dan tidaklah menunjukkan perbedaan. Dan yang lebih penting bukan mereka, yang terpenting adalah Allah yang memberikan pertumbuhan. Sebab sekiranya pun ditanam dan disiram namun tidak bertumbuh maka akan sia-sia. Tidak ada gunanya. Bukan hanya itu, mereka yang menanam dan menyiram akan menerima upah masing-masing dari Allah. Dengan demikian, tidak ada perbedaan di antara mereka, baik yang menanam ataupun yang menyiram.
2.
Status Hamba Tuhan dan
Jemaat
Pada ayat selanjutnya, Rasul Paulus juga menunjukkan status hamba Tuhan
dan jemaat. Hamba Tuhan adalah rekan sekerja Allah sedangkan jemaat adalah
ladang Allah, bangunan Allah. Dengan demikian setiap dari mereka memiliki
status dan bagian masing-masing. semua hamba Tuhan baik Apolos maupun Paulus
adalah kawan sekerja Allah sementara setiap jemaat adalah ladang dan bangunan
Allah. Jadi tidak masalah jika digarap oleh hamba Tuhan, terlepas siapapun dia,
yang penting memiliki iman yang sama dalam Kristus. Dengan demikian, sesama hamba
Tuhan adalah rekan Allah, yang bekerja bersama-sama, tanpa harus
dibandingkan-bandingkan. Juga jemaat tidak memiliki hak untuk mengklaim mereka
golongan ini atau itu. Sebab yang terpenting adalah yang memberikan pertumbuhan
yaitu Allah bukan yang menanam atau yang menyiram (siapa hamba Tuhannya).
Lantas bagaimana dengan kita jemaat Tuhan? Jangan-jangan selama ini kita mengklaim bahwa golongan kita lebih hebat dan super dari yang lain. Kita menganggap kita berbeda dengan demikian kita tidak dapat bekerja bersama untuk pelayanan Tuhan? Kita juga menganggap sesama hamba Tuhan bukan rekan Allah, rekan sekerja Allah hanya mereka yang berada pada gereja atau teologi yang sama?
Pandangan ini tentu salah, semua hamba Tuhan memiliki bagian masing-masing dari Allah. Ada yang dikaruniakan untuk menanam saja, ada juga yang dikaruniakan hanya untuk menyiram dan ada juga yang dikaruniakan hanya untuk menggarap tanah, namun kita semua satu kesatuan, rekan sekerja Allah yang membawa jemaat untuk mengenal Allah dan bertumbuh di dalam Allah, sebab pertumbuhan sejati berasal dari Allah dan hanya Dia yang sanggup memberikan pertumbuhan.
Mari kita menyadari hal ini dan semakin bersatu untuk bekerja di ladang Tuhan.
Mari kita juga menyadari karunia kita masing-masing dalam ladang pelayanan Allah. Tanpa melihat apa status kita dalam pelayanan baik menanam atau menyiram maka kita akan menerima upah kita masing-masing.
Mari menyadari bahwa kita adalah rekan sekerja Allah yang harus sama-sama bekerja. Dengan demikian pelayanan makin maju dan kita dapat memberikan yang terbaik bagi Tuhan.
Komentar
Posting Komentar